Prestasi Dosen

Dosen Unilak Bantu Petani Ubah Kotoran Sapi Jadi Energi Listrik

Penulis: Admin Humas Unilak โ€ข 2026-08-19 03:35:58 โ€ข 319 kali dibaca
Mode Kilat (AMP)
Dosen Unilak Bantu Petani Ubah Kotoran Sapi Jadi Energi Listrik

Unilak Riau โ€“ Kotoran sapi selama ini identik dengan limbah yang dapat menimbulkan persoalan lingkungan. Namun, melalui penerapan teknologi yang tepat, limbah tersebut justru dapat diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal inilah yang dikembangkan Universitas Lancang Kuning (Unilak) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Peternak Sapi Sido Makmur, Jalan Hangtuah RT 05/RW 05, Kampung Tualang, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak.


Kelompok Peternak Sapi Sido Makmur yang diketuai Lasiman menjadi mitra dalam penerapan teknologi pengolahan limbah ternak menjadi energi terbarukan. Melalui program ini, kotoran sapi tidak hanya dikelola untuk mengurangi limbah peternakan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biogas yang selanjutnya dapat digunakan untuk memasak dan menghasilkan energi listrik.Kegiatan PkM ini dipimpin oleh Ir. Latifa Siswati, M.P. selaku ketua tim, dengan anggota Dr. David Setiawan, S.T., M.T. dan Dr. Abrar Tanjung, S.T., M.T. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan empat orang mahasiswa serta satu orang tenaga administrasi dari unsur tenaga kependidikan Universitas Lancang Kuning.


Keterlibatan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di tengah masyarakat. Program yang diterapkan di Peternak Sapi Sido Makmur tidak berhenti pada pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas.


Tim PkM Unilak mengembangkan sistem yang mengintegrasikan biodigester, kompor biogas, genset biogas, Automatic Transfer Switch (ATS), dan sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT). Melalui biodigester, kotoran sapi diproses secara anaerob sehingga menghasilkan biogas. Biogas tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor maupun sebagai bahan bakar genset untuk menghasilkan energi listrik.


Salah satu pengembangan penting dalam program ini adalah penerapan ATS antara sumber listrik PLN dan genset biogas. Sistem tersebut dirancang untuk membantu melakukan perpindahan sumber listrik secara otomatis sesuai kondisi dan kebutuhan sistem, sehingga energi yang dihasilkan dari biogas dapat diintegrasikan dengan sistem kelistrikan yang digunakan oleh mitra. Selain itu, sistem monitoring berbasis IoT memungkinkan kondisi sistem dipantau secara digital melalui website dan Aplikasi berbasis Android. Dengan pendekatan tersebut, pengelola tidak hanya mendapatkan perangkat teknologi, tetapi juga memiliki sistem informasi yang membantu proses pemantauan dan pengelolaan teknologi secara lebih modern.

 

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lancang Kuning, Ir. Latifa Siswati, M.P., mengatakan bahwa program tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan bantuan berupa peralatan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan dan mengembangkan teknologi sesuai dengan kebutuhan mereka. โ€œKami ingin teknologi yang diberikan kepada masyarakat tidak berhenti sebagai bantuan alat, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan, dioperasikan, dirawat, dan dikembangkan oleh kelompok mitra. Karena itu, program ini kami arahkan pada proses pemberdayaan dan transfer pengetahuan, sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola teknologi secara berkelanjutan,โ€ ujar Latifa.


Menurutnya, peternakan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bagian dari sistem energi alternatif berbasis sumber daya lokal. โ€œKotoran sapi yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya memiliki potensi energi yang cukup besar. Melalui biodigester, limbah tersebut dapat diolah menjadi biogas, kemudian dimanfaatkan untuk memasak dan menghasilkan listrik. Dengan dukungan sistem ATS dan monitoring IoT, kami mencoba mengembangkan sistem yang lebih terintegrasi dan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini,โ€ jelasnya. Latifa berharap penerapan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Peternak Sapi Sido Makmur, baik dari sisi lingkungan, energi maupun peningkatan kapasitas masyarakat.


โ€œHarapan kami, kegiatan ini tidak berhenti setelah program selesai. Kelompok Peternak Sapi Sido Makmur dapat terus mengoperasikan dan merawat teknologi yang telah diterapkan, kemudian mengembangkannya secara mandiri. Kami juga berharap model ini nantinya dapat direplikasi pada kelompok peternak lainnya,โ€ tambah Latifa.

 

Kegiatan di Peternak Sapi Sido Makmur merupakan pengembangan dari pengalaman Universitas Lancang Kuning dalam menerapkan teknologi energi terbarukan pada kelompok masyarakat.


Pada kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat sebelumnya yang dilaksanakan pada peternak sapi di Tongonong, teknologi yang diterapkan meliputi biodigester lengkap, genset biogas, kompor biogas, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta sistem monitoring melalui aplikasi Telegram. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi tim untuk melakukan pengembangan teknologi pada kegiatan berikutnya.


Jika pada program sebelumnya sistem energi alternatif mengombinasikan biogas dan PLTS dengan monitoring melalui Telegram, maka pada kegiatan di Peternak Sapi Sido Makmur dikembangkan sistem yang lebih terintegrasi melalui biodigester, kompor biogas, genset biogas, ATS antara PLN dan genset biogas, serta sistem monitoring berbasis IoT yang dapat diakses melalui website. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya proses pengembangan teknologi dari satu kegiatan PkM ke kegiatan berikutnya. Dengan demikian, program tidak sekadar mengulang kegiatan yang sama, tetapi melakukan penyempurnaan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat.


Pemanfaatan limbah peternakan menjadi biogas memberikan manfaat ganda bagi kelompok peternak. Kotoran sapi dapat dikelola sehingga mengurangi potensi persoalan lingkungan, sementara hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah sehingga menghasilkan nilai tambah.


Bagi Peternak Sapi Sido Makmur, teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan dan mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sendiri. Ketua Peternak Sapi Sido Makmur, Lasiman, mengapresiasi program yang dilaksanakan Universitas Lancang Kuning. Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada kelompok peternak mengenai bagaimana limbah ternak dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi.

 

Penerapan teknologi IoT menjadi salah satu aspek yang membedakan program tahun ini. Sistem monitoring memungkinkan kondisi sistem energi dipantau melalui website sehingga pengelola dapat memperoleh informasi mengenai kondisi sistem secara lebih mudah. Digitalisasi monitoring tersebut diharapkan dapat membantu kelompok peternak dalam melakukan pengawasan dan pengelolaan sistem secara lebih efektif serta memberikan pengalaman baru dalam mengoperasikan teknologi berbasis digital. Integrasi antara biogas, pembangkitan listrik, ATS, dan IoT menjadikan program ini tidak hanya berorientasi pada penyediaan sumber energi alternatif, tetapi juga pada pembangunan ekosistem teknologi yang dapat mendukung pengelolaan energi di tingkat masyarakat.

 

Tim PkM Universitas Lancang Kuning berharap teknologi yang diterapkan di Peternak Sapi Sido Makmur dapat menjadi contoh bahwa sektor peternakan memiliki potensi besar dalam mendukung kemandirian energi masyarakat. Kotoran sapi yang dihasilkan dari aktivitas peternakan dapat diolah menjadi biogas, kemudian digunakan untuk memasak maupun menghasilkan energi listrik. Dengan demikian, terjadi siklus pemanfaatan sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.


Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kelompok peternak dalam mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi energi alternatif secara mandiri. Lebih jauh, Universitas Lancang Kuning mendorong agar model tersebut dapat dikembangkan menjadi konsep peternakan berbasis energi terbarukan dan teknologi digital, yang mengintegrasikan pengelolaan limbah, produksi energi, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

 

Ketua Tim PkM, Ir. Latifa Siswati, M.P., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya kegiatan tersebut. โ€œKami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi yang telah memberikan dukungan pendanaan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, khususnya Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat,โ€ ungkap Latifa.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Lancang Kuning yang terus memberikan dukungan terhadap kegiatan pengabdian kepada masyarakat. โ€œKami juga mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Universitas Lancang Kuning dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lancang Kuning atas dukungan dan support yang diberikan kepada tim sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,โ€ katanya.


Latifa menambahkan bahwa keberhasilan kegiatan PkM tidak hanya ditentukan oleh tim perguruan tinggi, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat sebagai mitra. โ€œKami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Lasiman beserta seluruh anggota Peternak Sapi Sido Makmur yang telah menerima, mendukung, dan berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,โ€ tuturnya.


Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, Universitas Lancang Kuning berupaya menghadirkan teknologi yang tidak hanya berada di laboratorium, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata di tengah masyarakat. Dari kandang sapi, lahir energi. Dari limbah, tercipta manfaat. Dan melalui teknologi digital, peternakan masyarakat didorong menuju masa depan yang lebih mandiri, efisien, ramah lingkungan, dan berbasis teknologi.