⚡ AMP Ready Mode Kilat Seluler
Buka Versi Biasa →
UNILAK
Universitas Lancang Kuning
Versi Penuh
Prestasi Mahasiswa

Keren! Limbah Sabut Kelapa di Inhil Disulap Jadi CocoGuard untuk Cegah Abrasi Sungai di Reteh

Penulis: Admin Humas Unilak • 2026-09-25 02:48:40 • 10x dibaca

‎Unilak Riau - INDRAGIRI HILIR - Kabupaten Indragiri Hilir yang dikenal sebagai kawasan "Hamparan Kelapa Dunia" ternyata menyimpan inovasi lingkungan yang luar biasa. Dari produksi kelapa rakyat yang mencapai 310.706 ton pada tahun 2024, limbah sabut kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan optimal kini disulap menjadi solusi penyelamat lingkungan melalui proyek sosial bernama "CocoGuard_Ideation: Inovasi Limbah Sabut Kelapa Mitigasi Abrasi".

‎‎Inovasi ini lahir dari kegelisahan akan persoalan abrasi dan longsor tebing sungai yang terus terjadi. Kondisi ini bahkan makin nyata, di mana pada Juni 2026 lalu Pemerintah Provinsi Riau melaporkan longsor di Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, yang mengakibatkan 14 rumah terdampak dan empat rumah terseret ke sungai. Fakta ini menunjukkan abrasi bukan hanya ancaman, tapi persoalan nyata yang butuh mitigasi segera.

‎‎Berangkat dari kondisi tersebut, Putri Louisa, Fariusman serta Nurul Adi Aidi dari mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Sains Universitas Lancang Kuning dan masyarakat menggagas proyek percontohan di Desa Sanglar dan Desa Pulau Kecil, Kecamatan Reteh, 

‎Kabupaten Indragiri Hilir. Dengan dosen pembimbing Assoce Profesor Dr Dodi Sukma. 

‎‎Proyek ini akhirnya lolos pada program Pertamina Foundation PFmuda 2026 yang diumumkan pada awal September 2026 bersama dengan para mahasiswa dari berbagai kampus top di Indonesia. 

‎‎Menurut Assoce Profesor Dr Dodi Sukma, lokasi ini dipilih karena memiliki dua potensi sekaligus: melimpahnya limbah sabut kelapa dan tingginya risiko pengikisan tanah di tepian sungai yang dataran rendah dan dipengaruhi aliran sungai.

‎Cara kerja CocoGuard cukup cerdas dan ramah lingkungan. Sabut kelapa yang memiliki karakter kuat dan alami akan dikumpulkan dan diolah menjadi media berbasis serat alami bernama CocoGuard. Media ini kemudian dipasang di tebing sungai yang rawan abrasi sebagai pelindung awal permukaan tanah dari pengikisan. Penelitian Asha'ari et al. (2021) pun membuktikan, material berbasis kelapa dapat membantu mengurangi kehilangan tanah dibanding permukaan tanpa perlindungan. Ujar Dr Dodi. 

‎Sementara itu ketua tim  Putri Louisa mengatakan,  yang membuat proyek ini istimewa, CocoGuard tidak hanya berorientasi teknologi, tapi juga pemberdayaan. Masyarakat dan kelompok pengolah sabut kelapa akan dilibatkan penuh mulai dari pengumpulan limbah, pengolahan sabut, pembuatan media, pemasangan di tebing sungai, penanaman vegetasi penguat tanah, hingga pemantauan. Pendekatan ini menggabungkan sabut kelapa sebagai pelindung jangka pendek dan vegetasi sebagai penguat jangka panjang.

‎Manfaatnya pun berlapis. Secara lingkungan, mampu mengurangi abrasi secara alami. Secara sosial, meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Secara ekonomi, limbah yang tak bernilai kini memiliki nilai guna dan berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi yang membuka sumber pendapatan tambahan bagi kelompok pengolah sabut kelapa, sebut Putri. 

‎‎Melalui konsep "dari limbah menjadi pelindung lingkungan", hamparan kelapa Inhil tidak hanya dipandang sebagai sumber komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai sumber material lokal untuk menjawab permasalahan lingkungan. Jika berhasil, model CocoGuard di Desa Pulau Kecil ini akan menjadi percontohan yang dapat dievaluasi dan direplikasi di titik rawan abrasi lainnya di Desa Sanglar maupun seluruh wilayah tepian sungai di Kabupaten Indragiri Hilir.

‎‎"kami merasa senang atas lolos program Pertamina Foundation 2026. Tentu kami (mahasiswa) ingin berkontribusi bagi kemajuan daerah". Ujar Putri.

Bagikan Berita:

Berita Terbaru Lainnya